Tantrum adalah ekspresi emosi, terutama rasa marah, yang dikeluarkan anak secara berlebihan. Ketika sedang tantrum biasanya anak akan menangis, berteriak, mengumpat, melempar atau merusak barang, berguling di lantai atau memukul. Meskipun hampir semua anak pasti pernah mengalami tantrum, tapi jika tidak ditangani dengan tepat tantrum bisa jadi pemicu sikap buruk anak loh moms.

Bahaya Selalu Mengikuti Keinginan Anak Tantrum, Berdampak Buruk Pada Karakter!

Dampak Selalu Menuruti Anak yang Tantrum

Anak tantrum dipicu oleh keinginan atau tujuannya yang tidak dipenuhi, mereka ingin mengecek apakah ia diperhatikan, itulah sebabnya kebanyakan anak lebih mudah tantrum ketika di tempat umum atau ketika ada 'penonton'. Karena dilakukan agar keinginannya dipenuhi, tantrum akan berhenti ketika moms menuruti keinginannya. Tapi, selalu menuruti keinginan anak saat tantrum ternyata memiliki dampak negatif seperti ini.

Dampak Selalu Menuruti Anak yang Tantrum
baca juga

Anak Menjadikan Tantrum Sebagai Senjata

Selain peniru ulung, anak juga perekam yang baik. Ia akan selalu mengingat akibat dari perbuatan yang ia lakukan, termasuk ketika ia tantrum. Jika saat anak tantrum moms langsung menuruti apa maunya, maka ia akan selalu melakukan hal itu agar keinginannya dapat segera terpenuhi.

Anak Menjadikan Tantrum Sebagai Senjata

Lebih Tempramen

Tantrum adalah wujud ekspresi dari emosi anak dan kebanyakan emosi yang ingin anak sampaikan adalah rasa marah. Ketika anak tantrum dan moms meredakannya dengan menuruti apa mau anak, maka ia akan menjadi pribadi yang lebih mudah marah dan egois.  

Lebih Tempramen
baca juga

Malas dan Manja

Mengetahui bahwa dengan tantrum maka ia bisa dengan instan mendapatkan apa yang dimau akan menjadikan anak malas dan manja. Karena di dalam pikiran mereka sudah tertanam bahwa hanya dengan merengek dan menangis pun masalah mereka bisa teratasi. Sifat ini bisa terbawa hingga dewasa loh moms. 

Malas dan Manja

Sulit Berempati

Saat anak bisa dengan mudah mendapatkan keinginannya dengan tantrum, maka ia akan berpikir bahwa orang lain pun sama. Hal inilah yang mengakibatkan anak menjadi sulit berempati terhadap kesulitan atau kesusahan orang lain. Rasa sulit berempati ini bisa menimbulkan sifat buruk lainnya seperti anak jadi egois dan arogan.

Sulit Berempati