Dampak Bencana Bagi Psikologi dan Cara Mengatasi Trauma Pada Anak

Dampak Bencana Bagi Psikologi Anak

Bencana gempa yang terjadi tentunya akan menyebabkan rasa duka yang mendalam. Terutama, bila ada anggota keluarga yang tidak bisa selamat dari bencana tersebut. Begitu juga jika ada kerusakan pada harta benda, misalnya seperti rumah, sekolah, kendaraan, sawah, dan lainnya sehingga dapat membuat terganggunya aktivitas terkait pekerjaan, sekolah, maupun ibadah. 

Perasaan kehilangan, mengalami kerusakan, ataupun perpindahan karena harus mengungsi merupakan pengalaman tiba-tiba yang dapat menimbulkan syok, tekanan, kecemasan, rasa bersalah, bahkan trauma. Hal tersebut sangat rentan terjadi pada anak-anak. Bila berkelanjutan dan tidak ditangani, maka dapat berujung pada gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, ataupun Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Reaksi dan respon yang dapat terjadi, diantaranya yaitu merasa cemas dan gugup yang dari pada biasanya. Bisa pula terjadi perubahan pada pola pikir dan perilakunya. Anak juga akan lebih sensitif terhadap lingkungan sekitar.

Misalnya bila ada suara ribut, getaran, atau stimulus lainnya bisa memicu ingatan akan bencana yang akan menimbulkan kecemasan dan juga rasa takut akan terulangnya bencana. Hal tersebut bisa mempengaruhi kondisi fisiknya, atau istilahnya hyper arousal, seperti berkeringat dingin, detak jantung yang meningkat, sulit berkonsentrasi, sehingga dapat berpengaruh pada pola tidur dan makan yang menjadi terganggu. 

Dampak Bencana Bagi Psikologi dan Cara Mengatasi Trauma Pada Anak

Cara Mengatasi Trauma Pada Anak

Untuk mengatasi terjadinya trauma diperlukan bantuan penangganan psikologis berupa pemulihan trauma. Pemulihan trauma pasca bencana ini akan mencegah munculnya gangguan psikologis pada anak yang lebih berat, serta dapat meningkatkan ketahanan (resiliensi), sehingga kelak mereka bisa menjadi lebih tangguh dan siap menghadapi permasalahan yang ada. 

Tindakan pemulihan trauma ini bukanlah hal yang instan. Dibutuhkan waktu yang realistis dan fasilitator, seperti psikolog, pekerja kreatif, pekerja sosial, relawan, dan lain sebagainya yang profesional dan memadai. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain:

  • Berikan kesempatan anak untuk bisa menyampaikan pikiran dan perasaannya mengenai hal yang mereka alami. Moms bisa merancang aktivitas semenarik mungkin yang dapat membuat anak merasa nyaman dan terbuka untuk bercerita. Contohnya adalah dengan menggambar, menulis, ataupun bercerita dengan boneka.
  • Menjadi role model (teladan) yang positif dan optimis bagi anak dalam menghadapi kesulitan yang terjadi pasca bencana. Sebaiknya jangan menyampaikan hal-hal yang dapat membuat anak merasa takut. Sebagai orang dewasa akan lebih baik bila mampu menunjukkan sikap dan perilaku yang optimis. Yakinkan pada anak untuk mengetahui bahwa mereka akan tetap aman dengan bantuan dan perlindungan yang tersedia, serta hari esok akan lebih baik dari sebelumnya.
  • Memberikan edukasi pada anak mengenai bencana. Sampaikan pada anak mengenai fakta yang terjadi dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan dapat dipahami, sehingga bisa menjadi suatu pengetahuan dan wawasan baru bagi anak. Hal tersebut dapat membantu anak untuk merasa lebih berdaya dan percaya diri agar bisa mengatasi masalah-masalah akibat bencana yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang.
  • Menciptakan rutinitas sehari-hari untuk anak. Sebaiknya berikan waktu pada anak untuk tetap berinteraksi dan bermain dengan teman-temannya dan ciptakan rutinitas sederhana sehari-hari yang bisa dilakukannya. Hal tersebut dapat membantu mengurangi rasa cemas atau kebosanan  yang mungkin dirasakan oleh anak.


Penangganan trauma pada anak haruslah diperhatikan dengan baik. Hal ini supaya anak bisa ceria kembali dan tidak menimbulkan dampak buruk bagi dirinya kedepannya nanti. Hal ini juga bisa moms lakukan dengan menjadi relawan di lokasi pengungsian, lho. Dengan begitu, anak-anak korban bencana bisa terhibur kembali.