Menggoreng merupakan metode memasak yang umum digunakan di seluruh dunia. Restoran hingga penjual kaki lima kerap kali memakai cara ini sebagai metode cepat, mudah, dan murah dalam memasak. Tak jarang pula diaplikasikan ketika moms ingin menyiapkan makanan cepat bagi si kecil dan keluarga. 

Kemudahan dan kenikmatan gorengan buat kita ngiler ya moms! Tapi tahu kah moms, santapan gorengan ini kelak akan membuat kesehatan kita menurun? Sebelum 'ngiler' sampai kehilangan kontrol karena makan gorengan dalam jumlah berlebihan, yuk cari tahu dampak buruk yang disebabkannya!

Jadi Cemilan Favorit, Ternyata Gorengan Menyimpan 6 Risiko yang Mengintai Kesehatan

1. Penyakit Jantung

Menyatap makanan yang digoreng bisa menyebabkan tekanan darah tinggi, kolesterol, dan berat badan berlebih (obesitas). Semua itu merupakan faktor terbesar penyebab peyakit jantung. 

Semakin sering seseorang konsumsi makanan yang digoreng, semakin besar pula risiko terkena penyakit jantung. Wanita yang makan satu atau lebih porsi ikan goreng perminggu miliki risiko gagal jantung 48 persen lebih tinggi, ketimbang dengan mereka yang mengkonsumsi 1-3 porsi per bulan.

baca juga

2. Kegemukan

Banyaknya minyak yang terserap oleh makanan saat digoreng, secara signifikan meningkatkan asupan kalori. Nantinya kalori tersebut akan mempengaruhi hormon yang mengatur nafsu makan dan penyimpanan lemak. Sehingga lemak trans menumpuk di tubuh sehingga menambah berat badan.

2. Kegemukan

3. Lemak Tinggi Trans

Santapan yang digoreng biasanya tinggi lemak trans. Lemak trans terbentuk saat lemak tak jenuh menjalani proses yang disebut hidrogenasi. Produsen makanan sering menghidrogenasi lemak menggunakan tekanan tinggi dan gas hidrogen untuk meningkatkan umur simpan (awet) dan stabilitasnya. Namun hidrogenasi juga terjadi saat minyak dipanaskan hingga samapai suhu yang sangat tinggi selama memasak.

Karena struktur kimiawi dari lemak sulit dipecah oleh tubuh, maka pada akhirnya akan berdampak negatif pada kesehatan. Beberapa diantaranya meningkatkan risiko penyakit jantung, kanker, diabetes, dan obesitas. 

baca juga

4. Diabetes

Moms dan keluarga hobi makan makanan cepat saji, bahkan lebih dari dua kali setiap minggunya? Hati-hati loh moms. Bagi mereka yang memiliki kebiasaan tersebut, kemungkinan terkena diabetes dua kali lebih besar ketimbang dengan mereka yang memakannya kurang dari sekali dalam seminggu. 

4. Diabetes

5. Kalori Tinggi

Dibandingkan dengan metode masak lainnya, menggoreng menambah banyak kalori. Makanan yang digoreng biasanya dilapisi dengan adonan atau tepung sebelum dimasak. Saat di goreng pun, makanan kehilangan air dan menyerap minyak (lemak), sehingga kandungan kalori menjadi lebih tinggi.

Contohnya saja 100 gram filet ikan panggang mengandung 105 kalori dan 1 gram lemak. Sementara ikan goreng 100 gram mengandung 23 kalori dan 12 gram lemak

Lainnya, satu kentang panggang kecil (100 gram) mengandung 93 kalori dan 0 gram lemak. Sedangkan jumlah yang sama, ketang goreng mengandung 319 kalori dan 17 gram lemak.

5. Kalori Tinggi

6. Mengandung Acrylamide (zat beracun)

Acrylamide merupakan zat beracun yang bisa terbentuk dalam makanan selama memasak dengan suhu tinggi, seperti menggoreng, memanggang, atau merebus. Zat ini dibentuk oleh reaksi kimia antara gula dan asam amino yang disebut aspargine. Makanan bertepung seperti kentang goreng dan makanan yang dipanggang biasanya memiliki konsentrasi akrilamida atau senyawa organik sederhana dan berpotensi pada kesehatan.

So, sebelum mengkonsumsi atau memproduksi makanan yang digoreng yuk kita pikirkan lagi resiko yang akan diambil oleh keluarga!