1. Gizi Buruk
Walaupun memiliki ibukota negara yang semaju Jakarta, Indonesia tetap merupakan negara berkembang yang tak kunjung lepas dari permasalahan gizi buruk. Faktanya, Data Pemantauan Status Gizi (PSG) mencatat di tahun 2017 terdapat 3,8 persen balita dengan permasalahan gizi buruk, 14 persen kurang gizi, 29,6 persen mengalami stunting atau pendek, dan 9,5 persen wasting atau kurus. Data ini diambil dari 34 provinsi dan 514 kota/kabupaten. Gangguan tumbuh kembang anak ini tidak hanya ditemui pada anak kecil, namun juga pada anak usia 12 hingga 18 tahun. Sekitar 35,5 persen dari mereka mengalami stunting dan 4,7 persennya mengalami wasting.
 

source: https://i.unu.edu/media/ourworld.unu.edu-en/article/19495/South-east-Asia-children-face-double-burden-of-obesity-and-undernutrition-940x529.jpg

2. Putus Sekolah
Masih banyak anak Indonesia yang putus sekolah. Umumnya, anak-anak yang putus sekolah adalah mereka yang telah lulus SD dan tidak melanjutkan ke tingkat pendidikan SMP. Terdapat catatan Data Pusat Pendidikan di Indonesia bahwa jumlah gedung SD terdapat sekitar 147 ribu, sementara tingkat SMP hanya memiliki sekitar 36 ribu gedung. Tentunya hal ini menunjukkan bahwa jumlah siswa yang melanjutkan sekolah ke jenjang SMP jauh lebih sedikit dari jumlah anak-anak yang lulus dari jenjang pendidikan SD.
 

source: https://c1.staticflickr.com/7/6130/5942972803_f5a539eef3_b.jpg


 

baca juga

3. Perkawinan di Bawah Umur
Masih banyak orang tua di pedesaan atau area terpencil yang menganggap menikahkan anaknya yang masih di bawah usia 17 tahun adalah hal yang tepat. Mereka umumnya memiliki pertimbangan sendiri, termasuk mengurangi beban ekonomi keluarga, anggapan bahwa perempuan tidak perlu merasakan jenjang pendidikan yang tinggi, hingga malu jika anaknya tidak sekolah namun juga tidak bekerja. Dari hari ke hari ada saja berita mengenai pernikahan anak di bawah umur ini. Kasusnya beragam. Ada yang menikahkan anaknya dengan orang yang usianya jauh lebih tua, ada pula yang menikahkan pasangan yang masih sama-sama di bawah umur.
 

source: https://www.abouther.com/sites/default/files/2017/12/13/main_shutterstock_303443231.jpg


 

4. Kekerasan pada Anak
Bukan hal yang baru, kasus kekerasan pada anak di Indonesia masih saja terjadi. Kekerasan ini bukan hanya soal kekerasan fisik, namun juga psikis. Mirisnya, banyak pelakunya yang merupakan orang terdekat korban, termasuk saudara atau orang tua kandungnya. Padahal, merupakan hak tiap anak untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman di tempat tinggal maupun di ruang publik.
 

source: https://media.phillyvoice.com/media/images/iStock_000041293706_Large.2e16d0ba.fill-735x490.jpg


 

baca juga

Keempat permasalahan anak Indonesia tersebut seolah menjadi benang kusut yang sulit diurai pangkal dan ujungnya. Seorang anak yang dibesarkan dengan tingkat pendidikan yang rendah bisa membuatnya memutuskan untuk menikah di bawah umur, memberikan gizi yang kurang pada keturunannya karena dirinya sendiri kurang pengetahuan, serta tekanan hidup bisa membuatnya melakukan kekerasan pada anak. Hal ini bisa terus-menerus berulang, padahal anak-anak merupakan generasi penerus bangsa.
 
Sebagai orang tua yang pintar, yuk, Moms, penuhi segala kebutuhan dan hak si kecil dari segi pendidikan, gizi, serta moralnya agar masalah-masalah tidak menghampiri.
 

source: https://a.scpr.org/i/b042b16a788388ee88736d75c6efb8d9/115544-full.jpg